"Ku harus bagaimana?"
Sepatah kalimat tanya yang kutanyakan pada diriku sendiri. Entah mengapa ada rasa bimbang yang hinggap di hati seorang laki-laki lemah sepertiku. Cerita-cerita yang kubuat dalam hidupku seolah tak mampu tuk meredam rasa itu.
"Ku harus bagaimana?"
Hingga 2 kali aku masih teriakkan seuntai kalimat itu. Tak mampu meredam bahkan mendendam. Terombang-ambing gulungan ombak di samudera. Diriku ini bagai patahan ranting di atas gulungan ombak yang genting. Inikah yang harus kujalani?
"Ku harus bagaimana?"
Sampai 3 kali kuulangi kalimat itu. Pada siapa yang harus disalahkan? Tuhan? Ibu? Ayah? Atau mungkin malah diriku sendiri yang tak pernah becus mengurus diri sendiri. Apakah aku harus selalu bersembunyi di balik tempurung kelapa yang mulai rapuh? Atau mencari tempurung-tempurung lainnya yang lebih kuat? Namun, sampai kapan? Tak adakah setitik air suci yang akan membebaskanku dari jeratan jala-jala sunyi ini.
Meski aku seperti ini, bagai malam yang tanpa senyum rembulan dan ramahnya bintang-bintang, aku masih diriku dan tak akan berubah meski waktu mulai semu memutih.
Lihatlah bulan di sana yang tetap mengumbar senyum meski terkadang bintang tak ada di sisinya.
by Riswan Seishin